Liturgi yang kaku

Ini murni kopas dari salah satu post temen di FB…
I totally agree with this post…
Silakan disimak…

________________________________________________________________________________________________________

Catatan:
Orang harus kaku soal liturgi. Liturgi itu sudah ada aturan bakunya, tidak seenaknya diubah2. Dan adalah hak kita sebagai awam untuk bisa mengikuti misa yang sesuai dengan aturan liturgi.
Pola pikir Protestan atau yg mirip ama protestant itu jangan sampai dibiarkan terbawa masuk ke dalam Gereja…
Faktanya adalah,
1) Kalau umat lebih suka liburan ke luar kota, jangan ekaristinya yang dipersalahkan–lalu dicari cara-cara gimana supaya ekaristi “menarik”. Ini benar-benar pola pikir Protestan, terutama aliran Pentecostal yang : ibadah dibuat semenarik mungkin, karena dari sanalah uang mengalir.

2) Beriman Katolik =/= jualan krupuk di warung. Bukan yang semakin banyak yang ikut yang semakin laris dan semakin bagus. Juga, Gereja Katolik tidak sama dengan partai politik, yang harus mencari cara supaya kelompoknya diikuti oleh banyak orang, supaya jutaan orang berduyun-duyun datang ke KKR atau rapat partai. Tidak. Ibadah ala KKR atau entah apa lagi namanya yang cuma cari sensasi dan banyak para pengikutnya itu bukan puncak inti iman Kristen [yang sejati]. Kalau sampai ada yang berpikir bahwa Gereja Katolik harus melakukan semacam trik KKR ala Benny Hihn dengan poster-poster dan iklan-iklan yang mencolok di sana-sini, maka orang itu KELIRU besar.
3). Tujuan Ekaristi tidak seperti KKR atau ibadah ala Benny Hihn. Benny Hihn boleh malu kalau acaranya cuma didatangi 100 orang (padahal targetnya 100.000 orang, misalnya). Ekaristi adalah ekaristi. Ini acara Tuhan, ini perjamuan Tuhan, bukan rapat partai yang dipimpin oleh seorang pengkhotbah karismatik yang masih butuh tepuk tangan manusia dari para pengikutnya (yang bisa merasa sakit hati jika tepuk tangan yang diterimanya kalah membahana dibandingkan acara sepak bola futsal di gedung sebelah, umpamanya…).

Tidak. Sama sekali TIDAK dengan “T” besar.

Ingat selalu bahwa Ekaristi kudus itu bukan acara KKR ala Benny Hihn atau acara dangdutan dalam kampanye partai politik di kampung-kampung. Ekaristi tidak bisa direkayasa menjadi acara dangdutan ala Benny Hihn. Kalau mau bikin acara band ato dangdutan atau acara a la Benny Hihn-Benny Hihn-an, bukan di paroki Gereja Katolik.

Kutipan dari buku ‘The Spirit of the Liturgy’ (hal. 198-9) tulisan +Joseph Cardinal Ratzinger, saat menjabat kepala prefek Konggregasi Ajaran & Iman (CDF):
“Tarian bukanlah bentuk ekspresi liturgi Kristen. Benar-benar absurd untuk mencoba membuat liturgi “menarik” dengan tarian, yang sering berakhir dengan tepuk-tangan. Karena KAPAN SAJA terdengar TEPUK-TANGAN pecah di dalam liturgi karena suatu prestasi manusiawi, itulah tanda PASTI bahwa HAKEKAT LITURGI secara TOTAL SUDAH HILANG dan diganti oleh sejenis PERTUNJUKAN ROHANI.”

“I am convinced that the crisis in the Church that we are experiencing today is to a large extent due to the disintegration of the liturgy… We need a new liturgical movement” – Cardinal Ratzinger, now Pope Benedict XVI.

Saya yakin bahwa sebagian besar krisis dari dalam Gereja yang kita alami hari ini adalah karena dis-integrasi dari liturgi … Kita perlu suatu gerakan Liturgis baru” ~ Kardinal Ratzinger, sekarang PausBenediktus XVI

“Some practices which Sacrosanctum Concilium had never even contemplated were allowed into the Liturgy, like Mass versus populum, Holy Communion in the hand, altogether giving up on the Latin and Gregorian Chant in favor of the vernacular and songs and hymns without much space for God, and extension beyond any reasonable limits of the faculty to concelebrate at Holy Mass. There was also the gross mis-interpretation of the principle of ‘active participation.’ ” – Archbishop Malcolm Ranjith (Secretary of the Congregation for Divine Worship)

“Beberapa praktek yang tidak pernah terpikirkan pada Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium kini diizinkan masuk ke dalam Liturgi Ekaristi, seperti Misa ‘ad populum’ (imam menghadap ke arah umat), menerimakan Komuni kudus di tangan, penggunaan pada bahasa Latin dan Gregorian Chant yang kesemuanya itu menyerah dan mengalah buat mendukung penggunaan lagu-lagu dan himne2 vernakular (bahasa dan lagu2 lokal sehari-hari pada suatu daerah tertentu) tanpa banyak ruang lagi yang tersisa untuk Tuhan.

Redemptionis Sacramentum 183

Kalo soal tepuk tangan, soal musik rock, band, soal alat musik daerah atau lagu daerah, salah satu referensi “Inkulturasi dan Liturgi Roma” yang dikeluarkan Kongregasi Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen-Sakramen tahun 1994.
“Musical forms, melodies and musical instruments could be used in divine worship as long as they “are suitable, or can be made suitable, for sacred use, and provided they are in accord with the dignity of the place of worship and truly contribute to the uplifting of the faithful.”[86]”

Itu tanda angka “86” di sana merujuk ke paragraf 120 dokumen Konstitusi Liturgi “Sacrosanctum Concilium”:

120. In the Latin Church the pipe organ is to be held in high esteem, for it is the traditional musical instrument which adds a wonderful splendor to the Church’s ceremonies and powerfully lifts up man’s mind to God and to higher things.

But other instruments also may be admitted for use in divine worship, with the knowledge and consent of the competent territorial authority, as laid down in Art. 22, 52, 37, and 40. This may be done, however, only on condition that the instruments are suitable, or can be made suitable, for sacred use, accord with the dignity of the temple, and truly contribute to the edification of the faithful.

Dari sana disebutkan par 22, 52, 37 dan 40, aku hanya kutipkan di sini par 22 dan 40:
22. 1. Regulation of the Sacred Liturgy depends solely on the authority of the Church, that is, on the Apostolic See and, as laws may determine, on the bishop.

2. In virtue of power conceded by the law, the regulation of the Liturgy within certain defined limits belongs also to various kinds of competent territorial bodies of bishops legitimately established.

3. Therefore no other person, even if he be a priest, may add, remove, or change anything in the Liturgy on his own authority.

Iklan

About dowey

simple, humble family man

Posted on 24 Oktober, 2011, in Katholik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komen...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: