Tinjauan MFE

Ulasan selama mengikuti Misa Forma Ekstraordinaria

Setelah satu tahun ikut serta berkegiatan MFE, saya akan memberi sedikit ulasan…

Saya tidak akan membahas sisi liturgi dan pastoral nya karena sudah banyak dibahas.

Saya amati selama ini MFE gregetnya masih kurang dan terkesan sebagai gerakan bawah tanah. Kenapa?

Karena umat yg mengikuti TLM pertambahannya masih kurang signifikan dan cenderung hanya itu2 saja…

Untuk berkembang, terkesan sangat sulit… Ada beberapa penyebabnya…

Pertama, belum adanya ‘restu’secara resmi dari hirarki setempat, dan bila hirarki setempat tidak menghalangi suatu MFE diselenggarakan, namun juga hanya membiarkannya. Kenapa? Nanti saya bahas lagi…

Kedua, aktivis MFE di setiap regional kurang kompak. Contohnya ya saya sendiri yg selama ini hanya bergerak sendiri untuk satu regional dengan tidak mengecilkan peran rekan2 dari luar kota. Bantuan akhir2 ini memang sudah didapat, namun sepertinya sekarang jadi tidak terlalu dibutuhkan, karena selebran yg nihil.

Ketiga, dana. Yup, sepertinya kurang pantas bila orientasi MFE adalah dana, namun seperti selama ini terjadi, MFE membutuhkan dana yg tidak sedikit. Memang sedikit dana sudah cukup, tapi hasil akhirnya adalah umat yg berpartisipasi juga tidak banyak. Dana ini terutama untuk melengkapi alat2 MFE dan promo MFE. Dan selain sumbangan dari donatur, dana didapat dari sebagian kolekte yg dikumpulkan dari umat yg hadir.

Keempat, mindset. Yup, mindset umat yg sudah terbentuk bertahun2 susah untuk diubah. Novus Ordo yg diaplikasi sebagai TPE di Indonesia sudah lama sangat kebablasan mengenai keikutsertaan umat dalamliturgi EKaristi. TPE lama yg membuat umat dan selebran saling bersahut2an susah diubah dalam TPE baru yg mengurangi keikutsertaan umat, masih ada saja umat yg ikut2an selebran dalam bersikap, hal ini bisa menimbulkan klerusasi umat. Mengenai hal ini sudah banyak dibahas dilain kesempatan.

Mindset umat yg menganggap MFE sebagai misa yg membosankan bahkan cenderung monoton, sedangkan umat pergi ke Gereja mengikuti misa dalam rangka mencari hiburan pribadi, bukan dalam mindset mengikuti upacara kurban. Novus Ordo yg meriah aja masih dianggap membosankan apalagi MFE yg bener2 khusuk… πŸ˜€

Dari beberapa point diatas, point nomer satu adalah yg utama.

Kita lihat saja, bila sudah ada restu dari salah satu Keuskupan, maka aktivis MFE akan lebih mudah untuk mendapatkan selebran dan mengadakan misa publik, bahkan bisa diadakan di paroki2. Point pertama bisa diselesaikan maka point berikutnya akan ikut dengan sendirinya…

Ironis nya, saya melihat ada semacam ketakutan dari para klerus dan hirarki akan MFE ini bisa berkembang di lingkungan KWI. Saya gak tau persis apa yg menyebabkan ketakutan itu, tapi akan saya coba tebak2…

πŸ˜€

Pertama. SSPX, yup, Misa Tridentin masih dianggap identik dengan SSPX, jadi ada resiko dicap sebagai

misa sesat, rekan di Pekalongan mengkonfirmasi hal ini πŸ˜€

Walaupun MFE yg kita selenggarakan jauh dari pengaruh SSPX, namun para klerus tidak berani untuk menjadi selebran. Sebenernya alasan ini adalah absurd, tidak mungkin hirarki begitu bodohnya sampai keliru dengan SSPX.

Kedua. Ini bener2 pikiran pribadi, tidak ada data valid. Ada kepentingan dari beberapa pihak yg berkaitan dengan liturgi. Seperti yg kita ketahui, Tata Perayaan Ekaristi Novus Ordo yg berbahasa Indonesia, belum final. Dan ada yg ‘memaksakan’ untuk membuat TPE ala Indonesia yg mengakibatkan CDF belum mau mensahkan terjemahan TPE ini. Ada pihak2 yg ingin Gereja Katolik di Indonesia membuat liturgi sendiri yg lebih bebas daripada Roma. Sementara MFE yg sudah baku, sebenarnya lebih mudah mendapat tempat dengan tidak adanya ubahan2 dari Ritus Latin.

Ini adalah dampak dari inkulturasi yg kebablasan…

Masih ada alasan lain lagi yg mungkin absurd… πŸ˜€

Persaingan bisnis… πŸ˜€

Dengan makin berkembangnya MFE yg notabene berjalan beriringan dengan musik dan lagu2 Gregorian, akan membuat lagu2 kontemporer akan tersingkir, padahal lagu2 rohani kontemporer ini lumayan signifikan perkembangannya, bisa terlihat dari banyaknya lagu2 rohani kontemporer yg dinyanyikan dalam liturgi.

Contoh lain, ada satu Paroki di Jogja yg bertahan dengan nyanyian2 dalam buku Madah Bakti walopun sudah menggunakan TPE yg baru, sementara paroki2 lain sudah menggunakan campuran antara Madah Bakti dan Puji Syukur. Bahkan paroki tersebut menggunakan lagu2 rohani kontemporer yg cenderung indiff yg sebenernya tidak patut di nyanyikan dalam Misa.

Jadi bila Gregorian berkembang lagi dan makin banyak dipakai dan penggunaan lagu2 rohani kontemporer berkurang, bisa dibayangkan siapa yg paling rugi… πŸ˜€

Bagaimana mengatasi masalah ini?

Pertama, kampanyekan MFE ini adalah legal sehingga klerus dan hirarki tidak ada alasan untuk takut dicap sesat. Buat semacam Roadshow dan seminar, buat buku dan adakan bedah buku mengenai MFE.

Kedua, perkuat basis2 aktivis MFE di setiap region. Ada satu paroki di luar Jawa yg Pastor parokinya sudah mau untuk mengadakan MFE di parokinya, tapi karena tidak adanya dukungan yg kuat dari aktivis2 MFE, sehingga sampai sekarang pun belum jalan… keburu dipindah tuh romo paroki… πŸ˜€

Ketiga, Buat semacam video latihan MFE ala Indonesia, ini akan mempermudah mendapatkan selebran dan melatihnya.

Keempat, himpun dana yg besar, dari donatur, sumbangan, perpuluhan, swadana atau apapun, karena dengan dukungan dana yg besar kita bisa mengadakan promo dan dukungan ke berbagai tempat dan memiliki posisi yg kuat untuk berhadapan dengan klerus dan hirarki.

Kita lihat, karismatik yg bukan produk asli dari Gereja Katolik bisa tumbuh dengan subur di Indonesia karena memiliki dukungan yg kuat dan menawarkan liturgi yg ‘hidup’, sedangkan MFE yg adalah produk asli Gereja Katolik dan usianya sangat jauh lebih tua dihalangi untuk bisa hidup dan berkembang.

Kita, aktivis MFE, sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, bila perlu kita minta dukungan dari

luar Indonesia.

Pax Domini Vobiscum

Iklan

About dowey

simple, humble family man

Posted on 30 November, 2011, in Katholik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan komen...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: